Rabu, 29 Desember 2010

Apa Makna Hidup Bagi Anda ?

Apa makna hidup bagi anda ?
Adakah tujuan yang ingin anda capai ?
Sekedar kaya, berhasil mengumpulkan uang, tanah, atau keberhasilan lain dalam karir / sekolah, atau mungkin ada yang sederhana saja: asal bisa makan, ngrokok (bagi perokok) dan santai, mau apa lagi ? 
Sahabat…. tanpa terasa kita sudah menjalani hidup dan kehidupan ini, apakah esok, lusa, minggu depan, bulan depan atau tahun depan kita masih diberi kesempatan untuk bernafas kembali menikmati indahnya segala ciptaan dan nikmatNYA ? ataukah hari ini, esok atau lusa adalah akhir dari kehidupan kita ? detik demi detik terus berlalu meninggalkan kita tanpa kita dapat kembali lagi ke detik-detik waktu tersebut, apa yang telah dan akan kita persiapkan untuk menghadapai suatu hari yang tak ada lagi sandiwara?, adakah karya nyata yang akan menolong dan mengekalkan amal-amal kebaikan kita ? 
tiada terasa begitu banyak hal-hal yang telah kita perbuat, sedangkan usia semakin menggiring kepada kematian, tapi tidak seorang pun dari kita yang mengetahui apakah amalannya diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau justru ia tertolak sehingga menjadi orang yang merugi.
Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya setiap amalan tergantung penutupannya. Barangsiapa berbuat baik pada sisa umurnya akan diampuni kesalahannya yang telah lalu, dan barangsiapa berbuat buruk pada sisa umurnya akan dihukum atas kesalahan yang telah lalu dan kesalahan di sisa umurnya. Orang-orang yang telah wafat menyesal atas apa yang telah luput dari berbagai kesenangan dunia yang fana. Apa yang telah berlalu dari dunia walaupun pada masa yang lampau sungguh telah hilang kelezatannya dan tinggal sisa-sisanya dan apabila kematian telah datang seolah-olah itu semua tidak ada. Renungkanlah….!

Senin, 27 Desember 2010

MAKNA PERGANTIAN TAHUN BARU

Mengapa orang selalu menyambut Tahun Baru dengan suka ria. Pesta-pesta dan hura-hura bahkan sering dengan meng-hamburkan uang yang tidak sedikit. Apakah hal itu sekadar latah, meniru tradisi bangsa barat? Ataukah merupakan naluri dari kesenangan manusia terhadap sesuatu yang baru. Senang Tahun Baru seperti senang kepada baju atau sepatu baru? Atau naluri senang kepada peningkatan dan pertambahan. Tahun kita kemarin hanya 2010, kini menjadi 2011; ada pertambahan dan peningkatan satu angka. Atau ada kaitannya dengan rasa tafa’ul seperti orang menyambut menyingsingnya matahari yang menjanjikan pagi yang cerah setelah gelap malam? Atau…?ada kaitannya dengan rasa tafa’ul seperti orang menyambut menyingsingnya matahari yang menjanjikan pagi yang cerah setelah gelap malam? Atau…? 
Padahal, bukankah Tahun Baru justru berarti pengurangan terhadap umur kita? Apakah kita tidak menyadari hal ini (seperti ungkapan Sutardji dalam syairnya mengatakan : “dari hari ke hari / bunuh diri pelan pelan / dari tahun ke tahun / bertimbun luka di badan / maut menabungKu segobang segobang”?
Demi Masa, Kita sungguh-sungguh berada dalam kerugian yang nyata, kecuali jika kita beriman dan beramal sholeh serta mengambil hikmah dan pelajaran dari semua yang terjadi dan yang kita saksikan karena hanya orang mukmin-lah yang bisa mendapatkannya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Pergantian tersebut itu adalah salah satu dari tanda kebesaran Allah SWT. Allah SWT berfirman : Sesungguhnya pada malam dan siang yang silih berganti, dan pada segala yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, terdapat ada tanda-tanda (kebesaran Allah) Bagi mereka yang bertaqwa. (QS Yunus:6)
Satu tahun… dalam perhitungan tentu dianggap sedikit, sebab seorang anak yang masih berusia seperti itu, pasti dianggap belum apa-apa. Juga suatu organisasi yang baru setahun, dianggap masih terlalu muda. Namun, satu tahun bagi orang yang beriman dan mengenal akan pentingnya waktu, tentulah tidak sedikit artinya, artinya, kalau akan dihitung menurut hari, maka satu tahun itu sama dengan 365 hari, atau kalau dihitung menurut jam sama dengan 8760 jam, atau kalau dihitung menurut menit sama dengan 525.600 menit dan kalau akan dihitung menurut detik sama dengan 31.536.000 detik. Berapakah anggaran hidup dalam setahun jika semua nikmat itu harus dibayar dengan rupiah? Pasti tidak akan ditemukan orang kaya di dunia ini, sebab semua hasil usaha, semua harta kekayaan, semua gaji tunjangan jabatan dan semua hasil jerih payahnya hanya untuk membayar nikmat Allah…
Maha Benar Allah dengan firman-Nya : Kalau kamu menghitung nikmat Allah, niscaya engkau tidak akan bisa menghintungnya. Memang! Kita pasti kewalahan menghi-tungnya, pasti tidak akan pernah bisa terhitung, sebab semua sudut alam ini, di setiap ciptaan-Nya pasti terdapat nikmat Allah. Namun, dengan pernyataan itu bukan berarti melarang kita untuk menghitungnya, kita mesti menghitung dan terus-menerus menghitung nikmat Allah agar kita sadar bahwa sekalipun seumur hidup ini kita gunakan untuk bersyukur,-menerus menghitung nikmat Allah agar kita sadar bahwa sekalipun seumur hidup ini kita gunakan untuk bersyukur, walaupun selama hayat ini kita gunakan untuk sujud dan ditambah lagi dengan berbagai puji-pujian dan sanjungan lainnya, pasti nikmat Allah tidak akan bisa terbayar…
Setahun berlalu dari umur kita. Umur sama dengan bernafas, bernafas sama dengan berdetak jantung, jantung adalah salah satu organ tubuh yang amat sangat berjasa dalam hidup ini, dia tidak pernah bosan bekerja, tidak mengenal istirahat sedikitpun, bahkan di saat si jantung itu dalam keadaan amat parah, dia masih tetap bekerja dengan setia….
Kalau kita akan mencoba menghitungnya, bagi orang dewasa, yang denyutan jantungnya 80 kali permenit dalam keadaan normal, maka sehari semalam jantung bekerja sebanyak 115.200 kali, subhanallah!!!! Subhanallah…!!!
Sungguh, masih sebagian kecil nikmat yang kita sebutkan di atas, rasanya kita sudah kewalahan menyebutkannya. Nikmat Allah sungguh terlalu banyak, sementara tugas yang kita laksanakan terlalu sedikit. Apalagi kalau akan kita hitung berapa banyak nikmat lainnya, tumbuh-tumbuhan yang kita manfaatkan dari sejak padi menjadi beras, kemudian dimasak dan kita makan setiap hari. Berapa banyak sayur-sayuran dan buah-buahan yang sangat dibutuhkan manusia. Tanaman yang diolah menjadi obat-obatan dan berbagai hasil lainnya yang tidak sedikit, berapa banyak binatang di darat yang sangat banyak manfaatnya, dan banyak lagi nikmat karunia Allah yang tiada terbatas.
Sungguh, setiap saat kita berhutang kepada Allah swt, setiap detik kita menerima nikmat yang tiada terhingga. Kalau kita tangguhkan lagi untuk bersyukur, sungguh, kita adalah manusia yang tak mengenal budi, tak mengenal jasa. Terkadang tabiat kita malah terbalik, kalau kita bertemu orang yang berjasa seratus ribu saja, rasanya ada dorongan dari dalam diri untuk habis-habisan terima kasih yang kita ucapkan. Namun, terhadap jasa Allah yang tak terhitung itu, kita amat kikir mengucapkan “Alhamdulillah”…. untuk bersyukur, sungguh, kita adalah manusia yang tak mengenal budi, tak mengenal jasa. Terkadang tabiat kita malah terbalik, kalau kita bertemu orang yang berjasa seratus ribu saja, rasanya ada dorongan dari dalam diri untuk habis-habisan terima kasih yang kita ucapkan. Namun, terhadap jasa Allah yang tak terhitung itu, kita amat kikir mengu-capkan “Alhamdulillah” ….
Semoga pergantian tahun kita kali ini, tidak menjadi ajang hura-hura, menghambur-hamburkan uang dan menghabiskan umur kita, tapi menjadi bahan untuk tafakkur bahwa per-gantian tahun itu berarti berkurangnya jatah umur kita dan bertambahnya beban kewajiban kita untuk men-syukuri nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya. 

Rabu, 22 Desember 2010

Kehidupan Ibarat Perahu

Kehidupan manusia ibarat sebuah perahu. Jika di dalam pelayaran hidupnya terlalu banyak dan terlalu berat dimuat dengan keinginan (nafsu) materi dan sifat sombong, maka perahu kehidupan ini sangat mudah kandas dan tenggelam di tengah perjalanan.

Jika ingin mencapai tepian kehidupan di seberang sana dengan lancar, maka wajib untuk segera mengurangi muatan yang berat itu, dan hanya mengambil batas terendah materi yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup, dan dengan tegas melepaskan ketamakan serta nafsu keinginan dalam hati manusia yang berlebihan.
Baru–baru ini saya sering mendengar perkataan beberapa teman melakukan investasi di saham atau kegiatan MLM (multi level marketing). Uang mereka dalam jumlah besar telah tertipu oleh pedagang curang. Dari teman–teman yang tertipu ini mereka semua memiliki kelemahan yang sama, yaitu hati yang sangat tamak.
Jika dipikir dengan seksama, akan segera dapat diketahui bahwa dalam investasi dan perdagangan sangat mustahil untuk bisa mendapatkan keuntungan 50 kali lipat hanya dalam satu kali raup, tapi masih ada saja orang yang dihantui dengan ketamakan yang dengan mudah mempercayai perusahaan yang mengatakan bahwa saham perusahaannya dapat naik 50 kali lipat, sehingga akhirnya tertipu dan uangnya habis.
Jelas-jelas mengetahui bahwa pengelolaan dan aturan pembagian hasil dari perusahaan MLM tidak transparan, tapi ketika kelihatan satu lembar cek tunai bernominal satu juta dollar, masih saja beranggapan bahwa asalkan serius menjalankan MLM bisa segera menjadi jutawan, cek tersebut juga sudah tidak perlu diperiksa lagi keasliannya dan dengan mudah percaya pada janji orang lain, akhirnya uang dalam jumlah besar pun habis tak bersisa hanya untuk membeli barang-barang tak berkualitas yang menumpuk bagaikan gunung.
Penduduk asli di Afrika mempunyai cara yang unik untuk menangkap simpanse. Di dalam sebuah kotak kayu kecil diletakkan buah–buahan yang berkulit keras yang disukai oleh simpanse, pada salah satu sisi kotak tersebut dibuat sebuah lubang yang besarnya persis sebesar tangan simpanse agar dapat masuk untuk mengambil buah–buahan di dalamnya.
Begitu simpanse menjulurkan tangan ke dalam dan meraih buah–buahan yang ada di dalam, maka tangannya tidak akan dapat ditarik keluar lagi dari lubang itu, cara ini sering digunakan oleh penduduk untuk menangkap simpanse, sebab simpanse ada satu kebiasaan, yaitu tidak mudah melepaskan benda apa pun yang telah digenggam dalam tangannya.
Orang–orang selalu menertawakan kebodohan simpanse.
Mengapa tidak melepaskan buah dalam genggamannya itu lalu melarikan diri? Sesungguhnya jika kita renungkan kembali hal yang terjadi pada diri kita, kita juga akan mendapati bahwa tidak hanya simpanse yang bisa berbuat kesalahan seperti itu.
Di kampung halaman saya, semasa kecil dulu, pernah terjadi bencana kebakaran, waktu itu ada satu keluarga yang miskin yang berhasil selamat dari kobaran api karena tidak memiliki harta apa pun, sehingga lolos dari mara bahaya itu.
Sebaliknya tetangga mereka yang kaya raya, menerjang masuk kembali ke dalam kobaran api dan berusaha untuk menyelamatkan perabotnya yang mahal dan mencari uang dan surat-surat berharganya, akhirnya tertelan kobaran api dan tidak pernah keluar lagi.
Kehidupan bagaikan perahu. Semakin sedikit memiliki kekayaan benda materi, semakin ringan pula beban dalam kehidupan ini, maka dari itu melepaskan ketamakan hati manusia akan meringankan muatan dan bisa bergerak maju ke depan, maka manusia akan hidup wajar dan lepas bebas.
Kekayaan materi hidup tidak bisa dibawa serta, mati pun tidak bisa dibawa pergi, tahu akan batasan dan mengekang keinginan materi dan sifat sombong, maka pasti akan membuat perjalanan hidup ini menjadi lancar, dengan lega dan mudah mencapai ke tepian di seberang sana yang terang benderang. (Erabaru/iin)