Mengapa orang selalu menyambut Tahun Baru dengan suka ria. Pesta-pesta dan hura-hura bahkan sering dengan meng-hamburkan uang yang tidak sedikit. Apakah hal itu sekadar latah, meniru tradisi bangsa barat? Ataukah merupakan naluri dari kesenangan manusia terhadap sesuatu yang baru. Senang Tahun Baru seperti senang kepada baju atau sepatu baru? Atau naluri senang kepada peningkatan dan pertambahan. Tahun kita kemarin hanya 2010, kini menjadi 2011; ada pertambahan dan peningkatan satu angka. Atau ada kaitannya dengan rasa tafa’ul seperti orang menyambut menyingsingnya matahari yang menjanjikan pagi yang cerah setelah gelap malam? Atau…?ada kaitannya dengan rasa tafa’ul seperti orang menyambut menyingsingnya matahari yang menjanjikan pagi yang cerah setelah gelap malam? Atau…?
Padahal, bukankah Tahun Baru justru berarti pengurangan terhadap umur kita? Apakah kita tidak menyadari hal ini (seperti ungkapan Sutardji dalam syairnya mengatakan : “dari hari ke hari / bunuh diri pelan pelan / dari tahun ke tahun / bertimbun luka di badan / maut menabungKu segobang segobang”?
Demi Masa, Kita sungguh-sungguh berada dalam kerugian yang nyata, kecuali jika kita beriman dan beramal sholeh serta mengambil hikmah dan pelajaran dari semua yang terjadi dan yang kita saksikan karena hanya orang mukmin-lah yang bisa mendapatkannya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Pergantian tersebut itu adalah salah satu dari tanda kebesaran Allah SWT. Allah SWT berfirman : Sesungguhnya pada malam dan siang yang silih berganti, dan pada segala yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, terdapat ada tanda-tanda (kebesaran Allah) Bagi mereka yang bertaqwa. (QS Yunus:6)
Satu tahun… dalam perhitungan tentu dianggap sedikit, sebab seorang anak yang masih berusia seperti itu, pasti dianggap belum apa-apa. Juga suatu organisasi yang baru setahun, dianggap masih terlalu muda. Namun, satu tahun bagi orang yang beriman dan mengenal akan pentingnya waktu, tentulah tidak sedikit artinya, artinya, kalau akan dihitung menurut hari, maka satu tahun itu sama dengan 365 hari, atau kalau dihitung menurut jam sama dengan 8760 jam, atau kalau dihitung menurut menit sama dengan 525.600 menit dan kalau akan dihitung menurut detik sama dengan 31.536.000 detik. Berapakah anggaran hidup dalam setahun jika semua nikmat itu harus dibayar dengan rupiah? Pasti tidak akan ditemukan orang kaya di dunia ini, sebab semua hasil usaha, semua harta kekayaan, semua gaji tunjangan jabatan dan semua hasil jerih payahnya hanya untuk membayar nikmat Allah…
Maha Benar Allah dengan firman-Nya : Kalau kamu menghitung nikmat Allah, niscaya engkau tidak akan bisa menghintungnya. Memang! Kita pasti kewalahan menghi-tungnya, pasti tidak akan pernah bisa terhitung, sebab semua sudut alam ini, di setiap ciptaan-Nya pasti terdapat nikmat Allah. Namun, dengan pernyataan itu bukan berarti melarang kita untuk menghitungnya, kita mesti menghitung dan terus-menerus menghitung nikmat Allah agar kita sadar bahwa sekalipun seumur hidup ini kita gunakan untuk bersyukur,-menerus menghitung nikmat Allah agar kita sadar bahwa sekalipun seumur hidup ini kita gunakan untuk bersyukur, walaupun selama hayat ini kita gunakan untuk sujud dan ditambah lagi dengan berbagai puji-pujian dan sanjungan lainnya, pasti nikmat Allah tidak akan bisa terbayar…
Setahun berlalu dari umur kita. Umur sama dengan bernafas, bernafas sama dengan berdetak jantung, jantung adalah salah satu organ tubuh yang amat sangat berjasa dalam hidup ini, dia tidak pernah bosan bekerja, tidak mengenal istirahat sedikitpun, bahkan di saat si jantung itu dalam keadaan amat parah, dia masih tetap bekerja dengan setia….
Kalau kita akan mencoba menghitungnya, bagi orang dewasa, yang denyutan jantungnya 80 kali permenit dalam keadaan normal, maka sehari semalam jantung bekerja sebanyak 115.200 kali, subhanallah!!!! Subhanallah…!!!
Sungguh, masih sebagian kecil nikmat yang kita sebutkan di atas, rasanya kita sudah kewalahan menyebutkannya. Nikmat Allah sungguh terlalu banyak, sementara tugas yang kita laksanakan terlalu sedikit. Apalagi kalau akan kita hitung berapa banyak nikmat lainnya, tumbuh-tumbuhan yang kita manfaatkan dari sejak padi menjadi beras, kemudian dimasak dan kita makan setiap hari. Berapa banyak sayur-sayuran dan buah-buahan yang sangat dibutuhkan manusia. Tanaman yang diolah menjadi obat-obatan dan berbagai hasil lainnya yang tidak sedikit, berapa banyak binatang di darat yang sangat banyak manfaatnya, dan banyak lagi nikmat karunia Allah yang tiada terbatas.
Sungguh, setiap saat kita berhutang kepada Allah swt, setiap detik kita menerima nikmat yang tiada terhingga. Kalau kita tangguhkan lagi untuk bersyukur, sungguh, kita adalah manusia yang tak mengenal budi, tak mengenal jasa. Terkadang tabiat kita malah terbalik, kalau kita bertemu orang yang berjasa seratus ribu saja, rasanya ada dorongan dari dalam diri untuk habis-habisan terima kasih yang kita ucapkan. Namun, terhadap jasa Allah yang tak terhitung itu, kita amat kikir mengucapkan “Alhamdulillah”…. untuk bersyukur, sungguh, kita adalah manusia yang tak mengenal budi, tak mengenal jasa. Terkadang tabiat kita malah terbalik, kalau kita bertemu orang yang berjasa seratus ribu saja, rasanya ada dorongan dari dalam diri untuk habis-habisan terima kasih yang kita ucapkan. Namun, terhadap jasa Allah yang tak terhitung itu, kita amat kikir mengu-capkan “Alhamdulillah” ….
Semoga pergantian tahun kita kali ini, tidak menjadi ajang hura-hura, menghambur-hamburkan uang dan menghabiskan umur kita, tapi menjadi bahan untuk tafakkur bahwa per-gantian tahun itu berarti berkurangnya jatah umur kita dan bertambahnya beban kewajiban kita untuk men-syukuri nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar